Selasa, 22 Juli 2008

Pengertian Psikologi sebagai ilmu psikologi

Psikologi dapat disebut sebagai ilmu yang mandiri karena memenuhi syarat berikut: 1) secara sistematis psikologi dipelajari melalui penelitian-penelitian ilmiah dengan menggunakan metode ilmiah, 2) memiliki struk¬tur keilmuan yang jelas, 3) memiliki objek formal dan material, 4) meng¬gunakan metode ilmiah seperti eksperimen, observasi, sejarah kasus (case history), pengetesan dan pengukuran (testing and measurement), 5) memiliki terminilogi khusus seperti bakat, motivasi, inteligensi, ke¬pri¬badian, 6) dan dapat diaplikasikan dalam berbagai adegan kehidupan. Kaitan psikologi dengan ilmu lain, psikologi dalam perkembangannya banyak dipengaruhi ilmu-ilmu lain misalnya filsafat, sosiologi, fisiologi, antropologi, biologi. Pengaruh ilmu tersebut terhadap psikologi dapat dalam bentuk landasan epistimologi dan metode yang digunakan. Psiko¬logi memberikan sum¬bangan terhadap pendidikan, karena subjek dan objek pendidikan adalah manusia (individu), psikologi memberikan wawasan bagaimana memahami perilaku individu dan proses pendidikan serta bagaimana membantu individu agar dapat berkembang optimal. Sejarah singkat psikologi, sejak zaman filsuf-filsuf besar seperti Socrates (469-399 SM) telah berkembang filsafat mental yang membahas secara jelas persoalan “jiwaraga”. Rene Descartes (1596-1650) menge¬mukakan bahwa manusia memiliki dimensi jiwa dan raga yang tidak dapat dipisahkan. Pada awal abad ke-19, psikologi mengalami kemajuan yang cukup pesat, Gustaf Tehodore Fechner (1801-1650) dan Ernest Heinrich Weber (1795-1878) menemukan suatu hukum penginderaan melalui eksperimen yang dipublikasikan pada tahun 1860 dalam buku Element of Pschology. Puncaknya adalah ketika Wilhem Wund (1832-1920) pada tahun 1879 mendirikan laboratorium psikologi pertama di Leipzig Jerman, dan peristiwa ini menandai psikologi sebagai ilmu mandiri. Tahun 1883 berdiri laboratorium serupa di Universitas John Hopkins. Tahun 1890 terbit buku The Principles of Psychologi karangan William James (1842-1910) yang setahun kemudian menjadi profesor psikologi dan sejak itu hampir semua universitas di Amerika memiliki fakultas yang mandiri. Di Indonesia perkembangan psikologi dimulai pada tahun 1953 yang di¬pelopori oleh Slamet Iman Santoso dengan mendirikan lembaga pen¬didikan psikologi pertama yang mandiri, pada tahun 1960 lembaga ter¬sebut sejajar dengan fakultas-fakultas lain di Universitas Indonesia, yang kemudian dikembangkan di UNPAD dan UGM. Belakangan ini kemajuan psikologi semakin pesat, ini terbukti dengan bermunculannya tokoh-tokoh baru, misalnya B.F. Skinner (pendekatan behavioristik), A. Maslow (teori aktualisasi diri) Roger Wolcott (teori belahan otak), Albert Bandura (teori pembelajaran sosial), Daniel Goleman (teori kecerdasan emosi), Howard Gardner (teori Multiple Intelligences), dan sebagainya. Konsep dasar perilaku: a) pengertian perilaku, perilaku adalah segenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, mulai dari perilaku yang paling nampak sampai yang tidak tampak, dari yang dirasakan sampai yang paling tidak dirasakan. b) pandangan tentang perilaku, ada lima pendekatan utama tentang perilaku yaitu: (1) pen¬dekatan neurobiologik, pendekatan ini menitikberatkan pada hubungan antara perilaku dengan kejadian yang berlangsung dalam tubuh (otak dan saraf) karena perilaku diatur oleh kegiatan otak dan sistem saraf, (2) pendekatan behavioristik, pendekatan ini menitikberatkan pada perilaku yang nampak, perilaku dapat dibentuk dengan pembiasan dan pengu¬kuhan melalui pengkondisian stimulus, (3) pendekatan kognitif, menurut pendekatan ini individu tidak hanya menerima stimulus yang pasif tetapi mengolah stimulus menjadi perilaku yang baru, (4) pandangan psiko¬analisis, menurut pandangan ini perilaku individu didorong oleh insting bawaan dan sebagian besar perilaku itu tidak disadari, (5) pandangan humanistik, perilaku individu bertujuan yang ditentukan oleh aspek internal individu. Individu mampu mengarahkan perilaku dan memberikan warna pada lingkungan. Jenis-jenis perilaku individu, a) perilaku sadar, perilaku yang melalui kerja otak dan pusat susunan saraf, b) perilaku tak sadar, perilaku yang spontan atau instingtif, c) perilaku tampak dan tidak tampak, d) perilaku sederhana dan kompleks, e) perilaku kognitif, afektif, konatif, dan psikomotor.
Mekanisme perilaku, (1) dalam pandangan behavioristik, mekanisme perilaku individu adalah:

W ------ S ------ r ------ O ------ e ------ R ------W

Keterangan : W = world (lingkunngan) e = effector
S = stimulus R = respon
r = receptor W = lingkungan
O = organisme
(2) dalam pandangan humanistik, perilaku merupakan siklus dari: (i) dorongan timbul, (ii) aktivitas dilakukan, (iii) tujuan dihayati, (iv) kebutuhan terpenuhi/rasa puas.

Dinamika perilaku individu, ditentukan dan dipengaruhi oleh:
a) Penga¬matan atau penginderaan (sensation), adalah proses belajar mengenal segala sesuatu yang berada di lingkungan sekitar dengan meng¬gunakan alat indera peng¬lihat¬an (mata), pendengaran (telinga), pengecap (lidah), pembau (hidung), dan perabaan (kulit, termasuk otot).
b) Persepsi (perception), adalah menafsirkan stimulus yang telah ada di otak atau pengertian individu tentang situasi atau penga¬laman. Ciri umum persepsi ter¬kait dengan dimensi ruang dan waktu, terstruktur, menye¬luruh, dan pe¬nuh arti. Persepsi bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh perhatian selek¬tif, ciri-ciri rangsangan, nilai dan kebutuhan individu, serta penga¬laman.
c) Berpikir (reasoning), adalah aktivitas yang bersifat ideasional untuk menemukan hu¬bung¬an antara bagian-bagian pengetahuan. Berpikir ber¬tujuan untuk mem¬bentuk pengertian, mem¬bentuk pendapat, dan menarik kesimpulan. Proses berpikir kreatif terdiri dari: persiapan, inkubasi, ilumi¬nasi, dan veri¬fikasi. Jenis berpikir ada dua, yaitu berpikir tingkat rendah dan tingkat tinggi.
Lanjutan dinamika perilaku individu, d) Inteligensi, dapat diartikan se¬bagai (i) kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir rasional, (ii) kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru, (iii) kemampuan memecahkan simbol-simbol tertentu. Inteligensi tidak sama dengan IQ karena IQ hanya rasio yang diperoleh dengan meng¬gunakan tes tertentu yang tidak atau belum tentu menggambarkan kemampuan individu yang lebih kompleks. Teori tentang inteligensi di¬antaranya G-Theory (general theory) dan S-Theory (specific theory). Inteligensi dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan. Sikap (Attitude), adalah evaluasi positif-negatif-ambivalen individu ter¬hadap objek, peris¬tiwa, orang, atau ide tertentu. Sikap merupakan pe¬rasa¬an, ke¬yakinan, dan kecenderungan perilaku yang relatif menetap. Unsur-unsur sikap meliputi kognisi, afeksi, dan kecenderungan bertindak. Faktor-faktor yang mem¬pengaruhi terbentukanya sikap adalah penga¬laman khusus, komunikasi dengan orang lain, adanya model, iklan dan opini, lembaga-lembaga sosial dan lembaga keagamaan. Konsep dasar motif dan motivasi,
a) Motif (motive) adalah keadaan kompleks dalam diri individu yang mengarahkan perilaku pada satu tujuan atau insentif, atau faktor penggerak perilaku, atau konstruk teoritik ten¬tang terjadinya perilaku. Motif dapat dikelompokkan menjadi primer (dorongan fisiologis, dorongan umum) dan sekunder. Woodwort dan Marquis me¬nge¬lompokkan motif menjadi tiga, yaitu motif organis, motif darurat, dan motif obyektif. Indikator motif terdiri atas: durasi, frekuensi, persistensi, devosi, ketabahan, aspirasi, kualifikasi prestasi, dan sikap. Upaya untuk meningkatkan motivasi diantaranya menciptakan situasi kompetisi yang sehat, membuat tujuan antara, menginformasikan tujuan dengan jelas, memberikan ganjaran, dan tersedianya kesempatan untuk sukses.
b) Konflik (conflict), terjadi ketika ada dua atau lebih motif yang saling ber¬tentangan sehingga individu berada dalam situasi petentangan batin, kebingungan, dan keragu-raguan. Jenis konflik dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) approach-approach conflict, (2) avoidance-avoidance con¬flict, dan (3) approach-avoidance conflict.
c) Frustrasi (frustration) adalah suatu keadaan kecewa dalam diri individu yang disebabkan oleh tidak tercapainya kepuasan atau tujuan. Sumber frustrasi menurut Sarlito Wirawan adalah lingkungan, pribadi, dan frustrasi konflik. Bentuk reaksi individu terhadap frustrasi adalah marah, bertindak secara ekplosif, introversi, merasa tidak berdaya, regresi, fiksasi, represi, pembentukan reaksi, rasionalisasi, proyeksi, kompensasi, dan sublimasi.

Konsep perkembangan individu,
a) perkembangan (development) ada¬lah proses perubahan yang dialamai individu menuju tingkat kedewasaan yang berlangsung secara sistematis, progresif, berkesinambungan, integratif baik fisik maupun mental;
b) pertumbuhan (growth) adalah perubahan secara kuantitatif pada aspek jasmani yang terkait dengan perubahan ukuran;
c) kematangan (maturity) adalah titik kulminasi dari suatu fase dan sebagai titik tolak dari kesiapan aspek tertentu men¬jalankan fungsinya.

Lanjutan konsep dasar perkembangan individu,
a) perkembangan merupakan hasil pertumbuhan, kematangan, dan belajar. Perkembangan menganut prinsip-prinsip berikut ini. 1) perkembangan berlangsung se¬pan¬jang hayat, 2) ada perbedaan irama dan tempo perkembangan, 3) dalam batas tertentu perkembangan dapat dipercepat, 4) perkembangan dipengaruhi oleh faktor bawaan, lingkungan, dan kematangan, 5) untuk aspek tertentu perkembangan wanita lebih cepat daripada pria, 6) individu yang normal mengalami semua fase perkembangan.
b) Fase per¬kem¬bangan secara umum adalah 1) masa prenatal, 2) masa bayi, 3) masa anak, 4) masa remaja, 5) masa dewasa, dan 6) masa tua.
c) Aspek perkembangan terdiri dari perkembangan kognitif, sosial, bahasa, moral, emosi, fisik, dan penghayatan keagamaan.

Konsep dasar kepribadian,
a) pengertian kepribadian, istilah ke¬pribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris “personality”. Secara etimologis, kata personality berasal dari bahasa latin “persona” yang berarti topeng. Menurut Gordon W Allport “personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical system, that determines his unique adjusment to his environment”,
b) Faktor yang mempengaruhi kepribadian adalah pembawaan dan pengalaman (umum dan khusus).
Lanjutan konsep dasar kepribadian,
a) meskipun kepribadian itu unik tetapi ada beberapa ahli yang berusaha menggolongkan kepribadian, misalnya Hipocrates dan Gelanus yang membagi tipologi kepribadian menjadi empat tipe yaitu: 1) kholeris, 2) melankolis, 3) plagmatis, dan sanguinis. Kretschmer meninjau tipologi kepribadian berdasarkan segi konstitusi dan temparamen. Berdasarkan konstitusi jasmani manusia digolongkan menjadi tipe piknis, leptosom, atletis dan displatis. Sedang¬kan berdasarkan temperamen kejiwaan, manusia digolongkan menjadi schizophrenia dan depresif. Berdasarkan orientasi nilai, Spranger mengemukakan enam tipologi manusia, yaitu tipe teoritik, ekonomi, estetis, agama, moral, dan kekuasaan.
b) Pengukuran kepribadian dapat ditempuh dengan cara observasi, inventori, dan teknik proyektif.
Konsep dasar belajar,
a) Pengertian belajar, Cronbach mengartikan “learning is shown by an change individual behaviour as a result of experiences”. Belajar juga dapat diartikan sebagai “proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh sesuatu yang baru sebagai hasil dari pengalaman. Ciri perubahan perilaku hasil belajar adalah aktif, positif, dan berorientasi tujuan.
b) Prinsip-prinsip belajar, beberapa perinsip belajar adalah 1) memiliki tujuan dan disadari, 2) adanya penerimaan informasi, 3) terjadinya proses internalisasi, dan 4) perubahan bersifat relatif permanent.
c) Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, faktor di luar individu yang mempengaruhi belajar adalah faktor non-sosial dan faktor sosial. Sedangkan faktor dalam diri individu yang mempengaruhi belajar adalah faktor fisiologis dan psikologis.

Teori psikologi modern beserta teorinya (min 3)


Seperti bidang-bidang sains lain, psikologi berasal sebahagian daripada falsafah. Psikologi yang dikaji secara saintifik bermula pada akhir abad ke 19 dan umur bidang ini adalah lebih kurang 100 tahun; agak muda jika dibanding dengan disiplin-disiplin lain. Tumpuan disiplin psikologi pada awalnya ialah mengkaji dan memahami bagaimana manusia atau organisme mengetahui atau belajar. Kemudian, psikologi terbahagi-bahagi kepada sub-disiplin lain seperti psikologi perkembangan, psikologi sosial, psikologi organisasi, psikologi kaunseling dan lain-lain.
Ahli-ahli falsafah telah lama cuba menerangkan apa itu pengetahuan/ilmu, bagaimana manusia menguasai pengetahuan/ilmu atau mengetahui sesuatu dan bagaimana manusia menggunakan pengetahuan itu. Mungkin teori yang tertua berkenaan pengetahuan ialah Teori Salinan (Copy Theory) yang dicadangkan oleh ahli falsafah Yunani Alcmaeon, Empedocles dan Democritus pada abad ke4 & ke5 sebelum masihi. Menurut teoro ini kita melihat sesuatu objek and salinan objek itu terbentuk dalam minda kita. Oleh itu kita mengetahui objek itu melalui salinan yang berada dalam min Ahli-ahli falsafah yang datang kemudian menolak teori salinan. Menurut mereka perwakilan (salinan) mungkin tidak merupakan objek asal dan sekiranya kita hanya mengetahui salinan, adalah sukar untuk menentukan bahawa salinan itu adalah tepat. Ahli-ahli falsafah realisme (realism) seperti Thomas Reid menolak konsep salinan dan mencadangkan bahawa kita mengetahui tentang sesuatu objek secara langsung tanpa melalui perwakilan atau salinan. Masalah dengan penerangan ini ialah; jika kita mengetahui sesuatu secara langsung, mengapa kita selalu membuat kesilapan. Contohnya, sesuatu bintik pada lantai kita sangkakan adalah seekor serangga yang sebenarnya adalah titik cat yang tertinggal.
Kemudian terdapat ahli-ahli falsafah idealisme (idealisme) yang menolak sama sekali objek. Bagi mereka apa yang terdapat dalam minda kita ialah idea; semua pengetahuan kita terdiri daripada idea dan bukan perkara atau benda.

Psikologi Awal
Pengasas psikologi moden bermula di Eropah dengan Wilhelm Wundt yang pertama menubuhkan makmal psikologi. Tumpuan psikologi awal ialah mengkaji aspek-aspek sensasi (sensation), persepsi (perception) dan tumpuan. (attention). Hermann Ebbinghaus, seorang Jerman, merupakan ahli psikologi yang pertama mengkaji pembelajaran secara saintifik. Pada tahun 1879, dia menggunakan dirinya sendiri sebagai subjek dalam eksperimen yang mengkaji pembelajaran dan ingatan.
Beliaulah yang memperkenalkan ujian 'kaitan bebas' (free association) yang menguji kaitan antara perkataan yang diberikan oleh penyelidik dan perkataan yang perkataan yang berikan oleh subjek. "Nyatakan perkataan pertama yang muncul dalam minda kamu apabila saya mengatakan _______ ". Jadi tujuan psikologi ialah untuk mengkaji bagaimana manusia membuat perkaitan antara perkataan atau idea.
Ebbinghaus juga terkenal dengan eksperimen yang menunjukkan fenomena ingatan dikalangan manusia. Dalam tahun 1885, dia menjalankan satu eskperimen yang menunjukkan bahawa kadar lupaan lebih ketara pada permulaan (55% selepas 1 jam) dan berkurangan seterusnya (14% selepas 31 hari).

Tingkahlaku ialah apa jua aktiviti yang dapat diperhatikan, direkod dan diukur. Tingkahlaku juga dapat diperhatikan apabila individu menyebut atau menulis sesuatu. Misal kata, catatan seorang tentang ketakutannya atau sikapnya merupakan tingkahlaku.

Proses Mental merangkumi segala proses-proses yang terlibat dengan pemikiran, ingatan, pembelajaran, sikap, emosi dan sebagainya. Inilah menjadi tumpuan ahli-ahli psikologi tetapi masalahnya ialah proses-proses ini tidak boleh dilihat dan sukar merekod dan mengukur dengan tepat. Oleh pada pada tahun 60an, ahli-ahli enggan menerima kajian mengenai proses-proses ini kerana ia tidak boleh dijalankan secara saintifik. Bagaimana pun paradigma telah berubah dan dengan kaedah-kaedah baru, kajian mengenai proses-proses mental diterima sebagai psikologi.




Adapun ahli-ahli dalam bidang psikolog modern beserta teorinya, diantaranya yaitu:


1. Erik Erikson

Ia sangat dikenal dengan tulisan-tulisannya di bidang psikologi anak.

Berangkat dari teori tahap-tahap perkembangan psikoseksual dari Freud

yang lebih menekankan pada dorongan-dorongan seksual,

Erikson mengembangkan teori tersebut

Dengan menekankan pada aspek-aspek perkembangan sosial.

Dia mengembangkan teori yang disebut theory of Psychosocial Development

(teori perkembangan psikososial)

dimana ia membagi tahap-tahap perkembangan manusia menjadi delapan tahapan.

Beberapa buku yang pernah ditulis oleh Erikson dan

mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat,

diantaranya adalah: (1) Young Man Luther:

A Study in Psychoanalysis and History (1958),

(2) Insight and Responsibility (1964), dan Identity: Youth and Crisis (1968).

2. Ivan Pavlov (1849 - 1936)

Ivan Petrovich Pavlov dilahirkan di Rjasan pada tanggal 18 September 1849

dan wafat di Leningrad pada tanggal 27 Pebruari 1936.

Ia sebenarnya bukanlah sarjana psikologi dan tidak mau disebut sebagai ahli psikologi,

karena ia adalah seorang sarjana ilmu faal yang fanatik.

Eksperimen Pavlov yang sangat terkenal di bidang psikologi dimulai

ketika ia melakukan studi tentang pencernaan. Dalam penelitian tersebut ia melihat

bahwa subyek penelitiannya (seekor anjing) akan mengeluarkan air liur sebagai respons

atas munculnya makanan.

- Ia kemudian mengeksplorasi fenomena ini dan

kemudian mengembangkan satu studi perilaku (behavioral study) yang dikondisikan,

yang dikenal dengan teori Classical Conditioning. Menurut teori ini,

ketika makanan (makanan disebut sebagai t

he unconditioned or unlearned stimulus - stimulus yang tidak dikondisikan atau tidak dipelajari)

dipasangkan atau diikutsertakan dengan bunyi bel

(bunyi bel disebut sebagai the conditioned or learned stimulus - stimulus yang dikondisikan atau dipelajari),

maka bunyi bel akan menghasilkan respons yang sama,

yaitu keluarnya air liur dari si anjing percobaan.

Hasil karyanya ini bahkan menghantarkannya menjadi pemenang hadiah Nobel.

Selain itu teori ini merupakan dasar bagi perkembangan aliran psikologi behaviourisme,

sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian mengenai

proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar.

3. Emil Kraepelin (1856 - 1926)

Emil Kraepelin dilahirkan pada tanggal 15 Pebruari 1856

di Neustrelitz dan wafat pada tanggal 7 Oktober 1926 di Munich.

Ia menajdi dokter di Wurzburg tahun 1878,

lalu menjadi dokter di rumah sakit jiwa Munich.

Pada tahun 1882 ia pindah ke Leipzig untuk bekerja dengan Wundt

yang pernah menjadi kawannya semasa mahasiswa.

Dari tahun 1903 sampai meninggalnya,

ia menjadi profesor psikiatri di klinik psikiatri di Munich dan

sekaligus menjadi direktur klinik tersebut. Emil Kraepelin adalah

psikiatris yang mempelajari gambaran dan

klasifikasi penyakit-penyakit kejiwaan,

yang akhirnya menjadi dasar penggolongan penyakit-penyakit kejiwaan

yang disebut sebagai teori Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM),

diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA).

Emil Kraepelin percaya bahwa jika klasifikasi gejala-gejala penyakit kejiwaan

dapat diidentifikasi maka asal usul dan penyebab penyakit kejiwaan tersebut

akan lebih mudah diteliti. Kraepelin menjadi terkenal terutama karena

penggolongannya mengenai penyakit kejiwaan yang disebut psikosis.

Ia membagi psikosis dalam dua golongan utama yaitu

dimentia praecox dan psikosis manic-depresif.

Dimentia praecox merupakan gejala awal dari penyakit kejiwaan yang

disebut schizophrenia. Kraepelin juga dikenal sebagai tokoh yang pertama kali

menggunakan metode psikologi pada pemeriksaan psikiatri,

antara lain menggunakn test psikologi untuk mengetahui adanya

kelainan-kelainan kejiwaan. Salah satu test yang diciptakannya

di kenal dengan nama test Kraepelin.

Test tersebut banyak digunakan oleh para sarjana psikologi di Indonesia pada era tahun 1980an.

Rujukan:


The Ancient Greeks: Socratis, Plato & Aristotle
by C. George Boeree, Shippensburg University, Pennsylvania.

Modern Philosophy: The Begining
by C. George Boeree, Shippensburg University,
Pennsylvania

Psychology: The Beginning
by C. George Boeree, Shippensburg University,
Pennsylvania

Psychology: Wundt and James
by C. George Boeree, Shippensburg University,
Pennsylvania

Psychology: Freud and Psychoanalysis
by C. George Boeree, Shippensburg University,
Pennsylvania

Psychology: Gestalt Psychology
by C. George Boeree, Shippensburg University,
Pennsylvania.

The Cognitive Movement
by C. George Boeree, Shippensburg University,
Pennsylvania
.

Psikologi Umum dan Perkembangan SP

Falsafah dan Psikologi
Seperti bidang-bidang sains lain, psikologi berasal sebahagian daripada falsafah. Psikologi yang dikaji secara saintifik bermula pada akhir abad ke 19 dan umur bidang ini adalah lebih kurang 100 tahun; agak muda jika dibanding dengan disiplin-disiplin lain. Tumpuan disiplin psikologi pada awalnya ialah mengkaji dan memahami bagaimana manusia atau organisme mengetahui atau belajar. Kemudian, psikologi terbahagi-bahagi kepada sub-disiplin lain seperti psikologi perkembangan, psikologi sosial, psikologi organisasi, psikologi kaunseling dan lain-lain.
Ahli-ahli falsafah telah lama cuba menerangkan apa itu pengetahuan/ilmu, bagaimana manusia menguasai pengetahuan/ilmu atau mengetahui sesuatu dan bagaimana manusia menggunakan pengetahuan itu. Mungkin teori yang tertua berkenaan pengetahuan ialah Teori Salinan (Copy Theory) yang dicadangkan oleh ahli falsafah Yunani Alcmaeon, Empedocles dan Democritus pada abad ke4 & ke5 sebelum masihi. Menurut teoro ini kita melihat sesuatu objek and salinan objek itu terbentuk dalam minda kita. Oleh itu kita mengetahui objek itu melalui salinan yang berada dalam min Ahli-ahli falsafah yang datang kemudian menolak teori salinan. Menurut mereka perwakilan (salinan) mungkin tidak merupakan objek asal dan sekiranya kita hanya mengetahui salinan, adalah sukar untuk menentukan bahawa salinan itu adalah tepat. Ahli-ahli falsafah realisme (realism) seperti Thomas Reid menolak konsep salinan dan mencadangkan bahawa kita mengetahui tentang sesuatu objek secara langsung tanpa melalui perwakilan atau salinan. Masalah dengan penerangan ini ialah; jika kita mengetahui sesuatu secara langsung, mengapa kita selalu membuat kesilapan. Contohnya, sesuatu bintik pada lantai kita sangkakan adalah seekor serangga yang sebenarnya adalah titik cat yang tertinggal.
Kemudian terdapat ahli-ahli falsafah idealisme (idealisme) yang menolak sama sekali objek. Bagi mereka apa yang terdapat dalam minda kita ialah idea; semua pengetahuan kita terdiri daripada idea dan bukan perkara atau benda.

Psikologi Awal
Pengasas psikologi moden bermula di Eropah dengan Wilhelm Wundt yang pertama menubuhkan makmal psikologi. Tumpuan psikologi awal ialah mengkaji aspek-aspek sensasi (sensation), persepsi (perception) dan tumpuan. (attention). Hermann Ebbinghaus, seorang Jerman, merupakan ahli psikologi yang pertama mengkaji pembelajaran secara saintifik. Pada tahun 1879, dia menggunakan dirinya sendiri sebagai subjek dalam eksperimen yang mengkaji pembelajaran dan ingatan.
Beliaulah yang memperkenalkan ujian 'kaitan bebas' (free association) yang menguji kaitan antara perkataan yang diberikan oleh penyelidik dan perkataan yang perkataan yang berikan oleh subjek. "Nyatakan perkataan pertama yang muncul dalam minda kamu apabila saya mengatakan _______ ". Jadi tujuan psikologi ialah untuk mengkaji bagaimana manusia membuat perkaitan antara perkataan atau idea.
Ebbinghaus juga terkenal dengan eksperimen yang menunjukkan fenomena ingatan dikalangan manusia. Dalam tahun 1885, dia menjalankan satu eskperimen yang menunjukkan bahawa kadar lupaan lebih ketara pada permulaan (55% selepas 1 jam) dan berkurangan seterusnya (14% selepas 31 hari).

Tingkahlaku ialah apa jua aktiviti yang dapat diperhatikan, direkod dan diukur. Tingkahlaku juga dapat diperhatikan apabila individu menyebut atau menulis sesuatu. Misal kata, catatan seorang tentang ketakutannya atau sikapnya merupakan tingkahlaku.

Proses Mental merangkumi segala proses-proses yang terlibat dengan pemikiran, ingatan, pembelajaran, sikap, emosi dan sebagainya. Inilah menjadi tumpuan ahli-ahli psikologi tetapi masalahnya ialah proses-proses ini tidak boleh dilihat dan sukar merekod dan mengukur dengan tepat. Oleh pada pada tahun 60an, ahli-ahli enggan menerima kajian mengenai proses-proses ini kerana ia tidak boleh dijalankan secara saintifik. Bagaimana pun paradigma telah berubah dan dengan kaedah-kaedah baru, kajian mengenai proses-proses mental diterima sebagai psikologi.

da kita.

Kamis, 01 Mei 2008

Tugas Perkembangan 1

Carilah Informasi tentang landasan Sosial Budaya dan landasan IPTEK!
Jawab:

a. Landasan Sosial-Budaya

Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Sejak lahirnya, ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosial-budaya yang ada di sekitarnya. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”, maka tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal, yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya.

Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien, yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya, yaitu : (a) perbedaan bahasa; (b) komunikasi non-verbal; (c) stereotipe; (d) kecenderungan menilai; dan (e) kecemasan. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihak-pihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda, dan bahkan mungkin bertolak belakang. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock, yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa, dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis, maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi.

Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.

b. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode, seperti: pengamatan, wawancara, analisis dokumen, prosedur tes, inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian, buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya.

Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan, layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika, pemikiran, pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno, 2003).

Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling, seperti : psikologi, ilmu pendidikan, statistik, evaluasi, biologi, filsafat, sosiologi, antroplogi, ilmu ekonomi, manajemen, ilmu hukum dan agama. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling, baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli, juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi berbasis komputer, sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Menurut Gausel (Prayitno, 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling pendidikan. Moh. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet, dalam bentuk “cyber counseling”. Dikemukakan pula, bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling.

Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini, maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno, 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Sebagai ilmuwan, konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling, baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian.

Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia, Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis, landasan religius dan landasan yuridis-formal.

Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi, yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan; (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling; dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling.

Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok, yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan; (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama; dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. Ditegaskan pula oleh Moh. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi.

Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling, yang bersumber dari Undang-Undang Dasar, Undang – Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia.

Senin, 21 April 2008

Tugas 2/ Mahasiswa BK Semester IV FITK BI UIN Jakarta 2008

A. Membuat Instrument wawancara / daftar pertanyaan.
1. Bagaimana cara menumbuhkan motif dan motivasi klien / siswa dalam belajar?
2. Bagaimana langkah-langkah untuk menggali potensi bawaan pada klien / siswa dalam meraih kesuksesan dan kebahagian hidupnya?
3. Seberapa besar pengaruh lingkungan terhadap belajar klien / siswa?
4. Apa pengaruhnya keunikan pribadi siswa terhadap prestasi belajar klien / siswa?

Selasa, 15 April 2008

Membuat Pertanyaan

1. Bagaimana peranan Bimbingan Konseling dalam Pengembangan bakat anak disekolah?
Jawab: Menurut saya untuk mengembangkan bakat anak dengan mengadakan pelatihan-pelatihan, kursus, dan kegiatan ekstra kulikuler, dengan demikian maka anak akan terlatih dan akan siap jika nanti anak tersebut terjun kemasyarakat.

Selasa, 01 April 2008

Silabus Pelayanan Bimbingan dan Konseling kelas XI

SILABUS PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING BERBASIS KOMPETENSI (SMA)

Kelas : XI Semester : 3 Tugas Perkembangan 1: Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME

Bidang Bimbingan

Rumusan Kompetensi

Materi Pengembangan Kompetensi

Kegiatan Layanan

Kegiatan Pendukung

Penilaian

Keterangan

1

2

3

5

6

7

8

Belajar

Memiliki kemantapan keyakinan bahwa belajar merupakan perintah Tuhan YME

- Nilai-nilai belajar dalam kehidupan beragama

- Belajar sepanjang hayat

- Menerapkan belajar dalam kehidupan sehari-hari

- Manfaat belajar dalam kehidupan sehari-hari

Informasi

Orientasi

APIN

Laiseg

Laijapen

Laijapang

Memiliki kemantapan keyakinan bahwa kegiatan belajar yang sebaik-baiknya akan meningkatkan mutu kehidupan beragama

- Belajar efektif, efisien meningkatkan kehidupan beragama

- Belajar akan meningkatkan derajat hidup manusia

- Belajar menumbuhkan keimanan beragama

- Motivasi belajar

- Cara menumbuhkan minat belajar

Orientasi

Informasi

APIN

Laiseg

Laijapen

Laijapang

Mampu mewujudkan secara efektif, efisien dan produktif tentang kegiatan belajar sesuai dengan ajaran agama

- Mengatur waktu luang

- Ketepatan waktu belajar

- Kejujuran dalam belajar

- Sukses dalam belajar

- Cara meraih cita-cita

-

Orientasi

Informasi

APIN

Laiseg

Laijapen

Laijapang

Permasalahan BK kelas XI SMA

Pendukung utama bagi tercapainya sasaran pembangunan manusia Indonesia yang bermutu adalah pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu dalam penyelenggaraannya tidak cukup hanya melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi harus didukung oleh peningkatan profesionalisasi dan system manajemen tenaga kependidikan serta kemampuan peserta didik untuk menolong dirinya sendiri dalam memilih dan mengambil keputusan demi pencapaian cita-citanya. Para peserta didik sebagian besar adalah remaja yang memiliki karakteristik, kebutuhan dan tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Adapun tugas-tugas perkembangan remaja salah satunya adalah mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada TuhanYME.

Permasalahan:

Melihat tugas-tugas perkembangan anak yang salah satu diantaranya adalah beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME merupakan hal yang sangat diinginkan oleh para wali murid pada khususnya. Namun setelah melihat silabus KTSP SMA kelas XI untuk pelajaran agama hanyalah untuk pelajaran agama Islam saja, padahal telah diketahui bahwa disekolah-sekolah umum, tentulah murid-muridnya bukan hanya beragama Islam saja tetapi juga ada yang memeluk agama Hindu, Kristen, dan Budha.

Pertanyaan

Bagaimana bagi murid yang memeluk agama Hindu, Budha, dan Kristen jika pada saat mata pelajaran agama Islam sedang berlangsung, sedangkan mereka tidak mendapatkan materi agama yang ia anut. Apabila ia memilih didalam kelas maka secara otomatis ia akan mengikuti pelajaran agama Islam karena kelas tersebut digunakan untuk pelajaran agama yang mayoritas Islam, dan apabila mereka diluar kelas tanpa guru pembimbing sehingga anak tersebut akan merasa tidak diperhatikan tentang pendidikan agama yang ia anut dan secara otomatis anak tersebut tidak mendapatkan pengetahuan tentang agamanya serta dikhawatirkan anak tersebut tidak mengetahui mana yang dilarang dan mana yang diperbolehkan oleh agamanya sehingga anak itu berkepribadian yang buruk.

Solusi:

Setiap sekolah haruslah mempunyai guru khusus agama baik agama Budha, Kristen, dan Hindu, sehingga peserta didik akan mendapatkan pengetahuan mengenai ketuhanan yang mereka anut. Dan dampaknya mereka mempunyai kepribadian yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Selasa, 25 Maret 2008

Psikologi Perkembanagn Remaja

Psikologi Perkembangan Masa Remaja (Adolescence)

Masa Remaja menunjukan masa transisi dari masa kanak-kanak kemasa dewasa. Suatau tahap transisi menuju ke status orang dewasa mempunyai beberapa keuntungan. Tahap transisi memberi remaja itu suatu masa yang lebih panjangt untuk mengembangkan berbagai keterampilan serta untuk mempersiapkan masa depan, tetapi masa itu cendrung menimbulkan masa pertentangan (konflikkebimbangan antara ketergantungan dan kemandirian1. Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari umur tiga belas sampai enam belas tahun atau tujuh belas tahun, dan akhir masa remaja bermula dari usia enam belas atau tujuh belas sampai usia delapan belas tahun, yaitu usia matang secara hukum. Awal usia rremaja biasanya disebut sebagai usia belasan. Meskipun remaja yang lebih tua sebenarnya masih tergolong anak belasan tahun sampai ia mencapai usia dua puluh satu tahun , namun stilah usia belasan tahun yang secara popular dihubungkan dengan pola perilaku khas remaja tersebut. Biasanya disebut pemuda pemudi atau disebut kawula muda, yang menunjukan bahwa masyarakat belum melihat adanya perilaku yang matang selama awal masa remaja2.

Ciri-ciri Masa Remaja

Masa Remaja mempunyai cirri-Ciri tertentu yang membedakan dengan periode seebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri tersebut anatara lain, yaitu:

1. Masa Remaja sebagai Periode yang Penting

Periode Penting untuk masa remaja karena akibat perubahan fisika dan juga karena psikologinya. Tanner mengatakan, bagi sebagian besar anak muda, usia antara dua belas dan enam belas tahun merupakan tahun kehidupan yang penuh kejadian sepanjang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan. Tak dapat disangkal, selama kehidupan janin dan tahun pertama atau kedua setelah kelahiran, perkembanagn berlangsung semakin cepat, dan lingkungan yang baik semakin lebih menentukan, tetapi yang bersangkutan sendiri bukanlah remaja yang menmperhatikan perkembangan atau kurangnya berkembang dengan kagum, senang atau takut.

2. Masa Remaja sebagai Periode Peralihan

Artinya apa yangn terjadi akan menimbulkan bekas pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan dating. Perubahan fisik yang terjadi selama tahun awal masa remaja mempengaruhi tingkat perilaku individu dan mengakibatkan diadakannya penilaian kembali penyesuaian nilai yang telah tergeser.

3 Masa Remaja sebagai Masa Perubahan

Tingkat perubahan dalam sikap dan prulaku selama masa remaja sejajr dengan tingkat perubahan fiiknya. Ada empat perubahan yang sama dan bersifat universal, yaitu:

a. Meningginya emosi, yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologi yang terjadi.

b. Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial dan menimbulkan masalah baru.

c. Dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nila-nilai juga berubah.

d. Sebagian remaja bersikap ambivalen terhap setiap perubahan.

4. Masa Remaj sebagai Usia Bermasalah

Setiap periode mempunyai masalah yang sulit diatasinya baik laki-laki maupun perempuan.

5. Masa Remaja sebagai Masa Mencari Identitas

Pada tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap pentin bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka akan mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi menjadi sama dengan temanya. Dalam segala hal seperti sebelumnya. Salah satu cara untuk mencoba mengangkat diri sendiri sebagai individu, adalah dengan menggunakan symbol stataus dalam bentuk mobil, pakaian, dan pemilikan barang-barang lain yang mudah terlihat.

6. Masa Remaja sebagai Usia yang Menimbulkan Ketakutan

Anggapan stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapih yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusakdan berperilaku merusak, menyebabakan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatikterhadap perilaku remaja yang normal.

7. Masa Remaja sebagai Masa yang tidak Realistik

Cita-cita yang tidak Realistik, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga agi keluarga dan teman-temannya, menyebabkan meningginya emosiyang merpakan cirri dari awal masa remaja.

8. Masa Reamaja sebagai Masa Dewasa

Denagan semakin mendekatnya usia kematangan, mak remaja mulai memusatykan dri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewas, yaitu merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat- obatan , dan terlibat dalam perbuatan seks.

Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja

Tugas Perkembangan masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit baik anak laki-laki maupun perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas-tugas tersebut selama awal masa remaja. Penelitian singkat mengenai ttugas-tugas perkembanagan masa remaja yang penting akan mengambarkan seberapa jauh perubahan yang harus dilakukan dan masalah yang timbul dari perubahan itu sendiri. Sekolah dan pendidikan tinggi menekankan mengenai perkembngan dan keterampilan intelektual dan konsep yang penting bagi kecakapan social. Erat hubungannya denagn masalah pengembangan-pengembangan nilai yang selaras dengan dunia nilai orang dewasa yang akan dimasuki, adalah tugas untyuk mengembangkan perilaku social yang bertanggung jawab. Kecendrungan kawin muda menyebabakan persiapaan perkawinan merupakan hal yang paling penting dalam tahun-tahun remaja.

Perubahan Fisik Selama Masa Remaja

a. Variasai dlm Perubahan Fisik

Seperti pada semua usia, setuiap perubahan fisik juga terdapat perbedaan individu. Bagi anak laki-laikimemulai pertumbuhannya lebih lambat dari anak perempuan. Perbedaan individual juga dipengaruhi oleh usia kematangan. Anak yang matangnya terlambat cendrung mempunyai bahu yang lebih lebar dari pada anak yang matang lebih awal. Tungkai kaki anak yang matang lebih awal cendrung pend3ek dan gemuk, tungkai kaki anak yang matangnya terlamabat cenderung lebih ramping.

b. Efek perubahan fisik

Remaja terdorong untuk mengunakan kekuatan yang diperoleh dan selanjutnya merupakan bantuan untyuk mengatasi setiap kecanggunagan yang timbul dikemudian hari.

c. Keprihatinan akan perubahan fisik

Beberapa keprihatinan akan tubuh yang dihadapi remaja merupakan lanjutan dari berbagai keprihatinan diri yang dialami para remaja dan yang pada awal-awal tahun remaja dan yang pada awaltahun-tahaun remaja didasarkan pada kondisi-kondisi yang berlaku, misalnya: keprihatinana akan kenormalan, bentuk tubuh, haid pada wanita, jerawat, dan gemuk.

d. Pola Emosi pada Masa Remaja

Remaja tidak lagi mengungkapkan kemarahannya dengan gerakan melainkan dengan menggerutu, tidak berbicara atau dengan sura keras mengeritik orang yang menyebabkan marah.

e..Kematangan Emosi

Akhir Masa Remaja tidak meledakkan Emosinya dihadapan orang lain melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat umtuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih dapat diterima.

Perubahan Sosial

Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial, hala ini disebabakan karena:

1. Kuatnya pengaruh teman sebaya.

2. Perubahan dalam perilaku sosial.

3. Pengelompokkan sosial baru.

4. Nilai baru dalam memilih teman.

5. Nilai baru dalam penerimaan sosial.

6. Nilai baru dalam Memilih teman.

7. Nilai baru dalam memilih pemimpin.

Beberapa Minat Remaja

Semua remaja muda sedikit banyak memiliki minat-minat khusus tertentu yang terdiri dari beberapa kategori, yaitu diantaranya adalah:

a. Minat Rekreasi Remaja

1. Minat Permainan dan Olahraga

2. Minat Bersantai

3. Minat Berpergjan

4. Minat Hobi

5. Minat Dansa

6. Minat Membaca

7. Mianat Menonton

8. Minat pada Radio dan Kaset

9. Minat pada Televisi

10.Minat untuk Melamun

b. Minat-minat Sosial yang Umum Pada Remaja

1.Pesta

2. Minuman-minuman Keras

3. Obat-obatan Terlarang

4. Percakapan

5. Menolong Orang lain

6. Peristiwa Dunia

7. Kritik dan Pembaruan

Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap Remaja Terhadap Pendidikan

a. Sikap teman sebaya: berorientasi sekolah atau kerja.

b. Sikap orang tua : Menganggap pendidikan sebagai batu loncatan kearah mobilitas sosial atau hanyasebagai suatau kewajiban karena diharuskan oleh hokum.

c. Nilai-nilai yang menunjukkan keberhasilan atau kegagalan akademis.

d. Relevansiatau nilai praktis dari berbagai mata pelajaran .

e. Sikap terhadap guru-guru, pegawai tata usaha dan kebijaksanaan akademis serta disiplin.

f. Keberhasilan dalam berbagai kegiatan ekstra kulikuler

g. Derajat dukungan sosial diantara teman-teman sekelas.

Sebab-sebab Umum Pertentangan Keluarga Selama Masa Remaja

a. Standar Perilaku

b Metoddee Disiplin

c. Hubunga dengan saudara kandung

d. Merasa menjadi korban

e. Sikap yang sangat kritis

f. Besarnya keluarg

g. Perilaku yang kurang matang

h. Memberontak terhadap sanak saudara

i. Masalah palang pintu

Konsep-konsep yang mempengaruhi konsep diri remaja

1. Usia kematangan

2. Penampilan diri

3. Kepatutan seks

4. Nama dan juliukan

5. Hubungan keluarga

6. Teman-teman sebaya

7. Kreativitas

8. Cita-cita

Hambatan-hambatan umum untuk melakasanakan peralihan kematangan

1. Dasar yang buruk

2. Terlambat matang

3. Terlampau lama diperlakukan seperti anak-anak

4. Perubahan Peran

5. Ketergantungan yang terlampau lama

Perkembangan Jiwa Beragama pada Remaja

Ide-ide agama, dasar-dasar dan pokok-pokok agama pada umumnya diterimaseseorang pada masa kecil . Apa yang diterima sejak kecil akan berkembang dan tumbuh subur apabila remaja dalam menerima kepercayaan tersebut tidak mendapat kritikan Motivasi Beragama dapat diartikan sebagai usaha yang adadalam diri manusia untuk berbuat sesuatu tindak keagamaan dengan tujuan tertentu. Berbagai cara yang dilakukan remaja untuk mengekspresikan juwa keberagamaaannya,yaitu dengan cara percaya ikut-ikutan, Percaya dengan kesadaran Percaya tapi agak ragu-ragu, tidak percaya atau cenderung ateis3.2

Daftar Pustaka

Hurlock Elizabeth. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.1980

Sururin, M.Ag. Ilmu JiwaAgama. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.2004

Atkinson,Rita L. Pengantar Psikologi. Jakarta:Erlangga.1983



1 Rita L Atkinson , Pengantar Psiologi, Jakarta: Erlangga, 1983, hal: 135

2 Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga, 1980 hal: 206

3 Sururin, M.Ag, Ilmu Jiw dan Agam, Jakarta: PT.Raja Grafindo Peersada,2004 hal:66