Selasa, 22 Juli 2008

Psikologi Umum dan Perkembangan SP

Falsafah dan Psikologi
Seperti bidang-bidang sains lain, psikologi berasal sebahagian daripada falsafah. Psikologi yang dikaji secara saintifik bermula pada akhir abad ke 19 dan umur bidang ini adalah lebih kurang 100 tahun; agak muda jika dibanding dengan disiplin-disiplin lain. Tumpuan disiplin psikologi pada awalnya ialah mengkaji dan memahami bagaimana manusia atau organisme mengetahui atau belajar. Kemudian, psikologi terbahagi-bahagi kepada sub-disiplin lain seperti psikologi perkembangan, psikologi sosial, psikologi organisasi, psikologi kaunseling dan lain-lain.
Ahli-ahli falsafah telah lama cuba menerangkan apa itu pengetahuan/ilmu, bagaimana manusia menguasai pengetahuan/ilmu atau mengetahui sesuatu dan bagaimana manusia menggunakan pengetahuan itu. Mungkin teori yang tertua berkenaan pengetahuan ialah Teori Salinan (Copy Theory) yang dicadangkan oleh ahli falsafah Yunani Alcmaeon, Empedocles dan Democritus pada abad ke4 & ke5 sebelum masihi. Menurut teoro ini kita melihat sesuatu objek and salinan objek itu terbentuk dalam minda kita. Oleh itu kita mengetahui objek itu melalui salinan yang berada dalam min Ahli-ahli falsafah yang datang kemudian menolak teori salinan. Menurut mereka perwakilan (salinan) mungkin tidak merupakan objek asal dan sekiranya kita hanya mengetahui salinan, adalah sukar untuk menentukan bahawa salinan itu adalah tepat. Ahli-ahli falsafah realisme (realism) seperti Thomas Reid menolak konsep salinan dan mencadangkan bahawa kita mengetahui tentang sesuatu objek secara langsung tanpa melalui perwakilan atau salinan. Masalah dengan penerangan ini ialah; jika kita mengetahui sesuatu secara langsung, mengapa kita selalu membuat kesilapan. Contohnya, sesuatu bintik pada lantai kita sangkakan adalah seekor serangga yang sebenarnya adalah titik cat yang tertinggal.
Kemudian terdapat ahli-ahli falsafah idealisme (idealisme) yang menolak sama sekali objek. Bagi mereka apa yang terdapat dalam minda kita ialah idea; semua pengetahuan kita terdiri daripada idea dan bukan perkara atau benda.

Psikologi Awal
Pengasas psikologi moden bermula di Eropah dengan Wilhelm Wundt yang pertama menubuhkan makmal psikologi. Tumpuan psikologi awal ialah mengkaji aspek-aspek sensasi (sensation), persepsi (perception) dan tumpuan. (attention). Hermann Ebbinghaus, seorang Jerman, merupakan ahli psikologi yang pertama mengkaji pembelajaran secara saintifik. Pada tahun 1879, dia menggunakan dirinya sendiri sebagai subjek dalam eksperimen yang mengkaji pembelajaran dan ingatan.
Beliaulah yang memperkenalkan ujian 'kaitan bebas' (free association) yang menguji kaitan antara perkataan yang diberikan oleh penyelidik dan perkataan yang perkataan yang berikan oleh subjek. "Nyatakan perkataan pertama yang muncul dalam minda kamu apabila saya mengatakan _______ ". Jadi tujuan psikologi ialah untuk mengkaji bagaimana manusia membuat perkaitan antara perkataan atau idea.
Ebbinghaus juga terkenal dengan eksperimen yang menunjukkan fenomena ingatan dikalangan manusia. Dalam tahun 1885, dia menjalankan satu eskperimen yang menunjukkan bahawa kadar lupaan lebih ketara pada permulaan (55% selepas 1 jam) dan berkurangan seterusnya (14% selepas 31 hari).

Tingkahlaku ialah apa jua aktiviti yang dapat diperhatikan, direkod dan diukur. Tingkahlaku juga dapat diperhatikan apabila individu menyebut atau menulis sesuatu. Misal kata, catatan seorang tentang ketakutannya atau sikapnya merupakan tingkahlaku.

Proses Mental merangkumi segala proses-proses yang terlibat dengan pemikiran, ingatan, pembelajaran, sikap, emosi dan sebagainya. Inilah menjadi tumpuan ahli-ahli psikologi tetapi masalahnya ialah proses-proses ini tidak boleh dilihat dan sukar merekod dan mengukur dengan tepat. Oleh pada pada tahun 60an, ahli-ahli enggan menerima kajian mengenai proses-proses ini kerana ia tidak boleh dijalankan secara saintifik. Bagaimana pun paradigma telah berubah dan dengan kaedah-kaedah baru, kajian mengenai proses-proses mental diterima sebagai psikologi.

da kita.

Kamis, 01 Mei 2008

Tugas Perkembangan 1

Carilah Informasi tentang landasan Sosial Budaya dan landasan IPTEK!
Jawab:

a. Landasan Sosial-Budaya

Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Sejak lahirnya, ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosial-budaya yang ada di sekitarnya. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”, maka tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal, yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya.

Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien, yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya, yaitu : (a) perbedaan bahasa; (b) komunikasi non-verbal; (c) stereotipe; (d) kecenderungan menilai; dan (e) kecemasan. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihak-pihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda, dan bahkan mungkin bertolak belakang. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock, yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa, dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis, maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi.

Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.

b. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode, seperti: pengamatan, wawancara, analisis dokumen, prosedur tes, inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian, buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya.

Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan, layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika, pemikiran, pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno, 2003).

Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling, seperti : psikologi, ilmu pendidikan, statistik, evaluasi, biologi, filsafat, sosiologi, antroplogi, ilmu ekonomi, manajemen, ilmu hukum dan agama. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling, baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli, juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi berbasis komputer, sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Menurut Gausel (Prayitno, 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling pendidikan. Moh. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet, dalam bentuk “cyber counseling”. Dikemukakan pula, bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling.

Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini, maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno, 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Sebagai ilmuwan, konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling, baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian.

Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia, Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis, landasan religius dan landasan yuridis-formal.

Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi, yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan; (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling; dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling.

Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok, yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan; (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama; dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. Ditegaskan pula oleh Moh. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi.

Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling, yang bersumber dari Undang-Undang Dasar, Undang – Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia.

Senin, 21 April 2008

Tugas 2/ Mahasiswa BK Semester IV FITK BI UIN Jakarta 2008

A. Membuat Instrument wawancara / daftar pertanyaan.
1. Bagaimana cara menumbuhkan motif dan motivasi klien / siswa dalam belajar?
2. Bagaimana langkah-langkah untuk menggali potensi bawaan pada klien / siswa dalam meraih kesuksesan dan kebahagian hidupnya?
3. Seberapa besar pengaruh lingkungan terhadap belajar klien / siswa?
4. Apa pengaruhnya keunikan pribadi siswa terhadap prestasi belajar klien / siswa?

Selasa, 15 April 2008

Membuat Pertanyaan

1. Bagaimana peranan Bimbingan Konseling dalam Pengembangan bakat anak disekolah?
Jawab: Menurut saya untuk mengembangkan bakat anak dengan mengadakan pelatihan-pelatihan, kursus, dan kegiatan ekstra kulikuler, dengan demikian maka anak akan terlatih dan akan siap jika nanti anak tersebut terjun kemasyarakat.

Selasa, 01 April 2008

Silabus Pelayanan Bimbingan dan Konseling kelas XI

SILABUS PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING BERBASIS KOMPETENSI (SMA)

Kelas : XI Semester : 3 Tugas Perkembangan 1: Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME

Bidang Bimbingan

Rumusan Kompetensi

Materi Pengembangan Kompetensi

Kegiatan Layanan

Kegiatan Pendukung

Penilaian

Keterangan

1

2

3

5

6

7

8

Belajar

Memiliki kemantapan keyakinan bahwa belajar merupakan perintah Tuhan YME

- Nilai-nilai belajar dalam kehidupan beragama

- Belajar sepanjang hayat

- Menerapkan belajar dalam kehidupan sehari-hari

- Manfaat belajar dalam kehidupan sehari-hari

Informasi

Orientasi

APIN

Laiseg

Laijapen

Laijapang

Memiliki kemantapan keyakinan bahwa kegiatan belajar yang sebaik-baiknya akan meningkatkan mutu kehidupan beragama

- Belajar efektif, efisien meningkatkan kehidupan beragama

- Belajar akan meningkatkan derajat hidup manusia

- Belajar menumbuhkan keimanan beragama

- Motivasi belajar

- Cara menumbuhkan minat belajar

Orientasi

Informasi

APIN

Laiseg

Laijapen

Laijapang

Mampu mewujudkan secara efektif, efisien dan produktif tentang kegiatan belajar sesuai dengan ajaran agama

- Mengatur waktu luang

- Ketepatan waktu belajar

- Kejujuran dalam belajar

- Sukses dalam belajar

- Cara meraih cita-cita

-

Orientasi

Informasi

APIN

Laiseg

Laijapen

Laijapang

Permasalahan BK kelas XI SMA

Pendukung utama bagi tercapainya sasaran pembangunan manusia Indonesia yang bermutu adalah pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu dalam penyelenggaraannya tidak cukup hanya melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi harus didukung oleh peningkatan profesionalisasi dan system manajemen tenaga kependidikan serta kemampuan peserta didik untuk menolong dirinya sendiri dalam memilih dan mengambil keputusan demi pencapaian cita-citanya. Para peserta didik sebagian besar adalah remaja yang memiliki karakteristik, kebutuhan dan tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Adapun tugas-tugas perkembangan remaja salah satunya adalah mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada TuhanYME.

Permasalahan:

Melihat tugas-tugas perkembangan anak yang salah satu diantaranya adalah beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME merupakan hal yang sangat diinginkan oleh para wali murid pada khususnya. Namun setelah melihat silabus KTSP SMA kelas XI untuk pelajaran agama hanyalah untuk pelajaran agama Islam saja, padahal telah diketahui bahwa disekolah-sekolah umum, tentulah murid-muridnya bukan hanya beragama Islam saja tetapi juga ada yang memeluk agama Hindu, Kristen, dan Budha.

Pertanyaan

Bagaimana bagi murid yang memeluk agama Hindu, Budha, dan Kristen jika pada saat mata pelajaran agama Islam sedang berlangsung, sedangkan mereka tidak mendapatkan materi agama yang ia anut. Apabila ia memilih didalam kelas maka secara otomatis ia akan mengikuti pelajaran agama Islam karena kelas tersebut digunakan untuk pelajaran agama yang mayoritas Islam, dan apabila mereka diluar kelas tanpa guru pembimbing sehingga anak tersebut akan merasa tidak diperhatikan tentang pendidikan agama yang ia anut dan secara otomatis anak tersebut tidak mendapatkan pengetahuan tentang agamanya serta dikhawatirkan anak tersebut tidak mengetahui mana yang dilarang dan mana yang diperbolehkan oleh agamanya sehingga anak itu berkepribadian yang buruk.

Solusi:

Setiap sekolah haruslah mempunyai guru khusus agama baik agama Budha, Kristen, dan Hindu, sehingga peserta didik akan mendapatkan pengetahuan mengenai ketuhanan yang mereka anut. Dan dampaknya mereka mempunyai kepribadian yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Selasa, 25 Maret 2008

Psikologi Perkembanagn Remaja

Psikologi Perkembangan Masa Remaja (Adolescence)

Masa Remaja menunjukan masa transisi dari masa kanak-kanak kemasa dewasa. Suatau tahap transisi menuju ke status orang dewasa mempunyai beberapa keuntungan. Tahap transisi memberi remaja itu suatu masa yang lebih panjangt untuk mengembangkan berbagai keterampilan serta untuk mempersiapkan masa depan, tetapi masa itu cendrung menimbulkan masa pertentangan (konflikkebimbangan antara ketergantungan dan kemandirian1. Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari umur tiga belas sampai enam belas tahun atau tujuh belas tahun, dan akhir masa remaja bermula dari usia enam belas atau tujuh belas sampai usia delapan belas tahun, yaitu usia matang secara hukum. Awal usia rremaja biasanya disebut sebagai usia belasan. Meskipun remaja yang lebih tua sebenarnya masih tergolong anak belasan tahun sampai ia mencapai usia dua puluh satu tahun , namun stilah usia belasan tahun yang secara popular dihubungkan dengan pola perilaku khas remaja tersebut. Biasanya disebut pemuda pemudi atau disebut kawula muda, yang menunjukan bahwa masyarakat belum melihat adanya perilaku yang matang selama awal masa remaja2.

Ciri-ciri Masa Remaja

Masa Remaja mempunyai cirri-Ciri tertentu yang membedakan dengan periode seebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri tersebut anatara lain, yaitu:

1. Masa Remaja sebagai Periode yang Penting

Periode Penting untuk masa remaja karena akibat perubahan fisika dan juga karena psikologinya. Tanner mengatakan, bagi sebagian besar anak muda, usia antara dua belas dan enam belas tahun merupakan tahun kehidupan yang penuh kejadian sepanjang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan. Tak dapat disangkal, selama kehidupan janin dan tahun pertama atau kedua setelah kelahiran, perkembanagn berlangsung semakin cepat, dan lingkungan yang baik semakin lebih menentukan, tetapi yang bersangkutan sendiri bukanlah remaja yang menmperhatikan perkembangan atau kurangnya berkembang dengan kagum, senang atau takut.

2. Masa Remaja sebagai Periode Peralihan

Artinya apa yangn terjadi akan menimbulkan bekas pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan dating. Perubahan fisik yang terjadi selama tahun awal masa remaja mempengaruhi tingkat perilaku individu dan mengakibatkan diadakannya penilaian kembali penyesuaian nilai yang telah tergeser.

3 Masa Remaja sebagai Masa Perubahan

Tingkat perubahan dalam sikap dan prulaku selama masa remaja sejajr dengan tingkat perubahan fiiknya. Ada empat perubahan yang sama dan bersifat universal, yaitu:

a. Meningginya emosi, yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologi yang terjadi.

b. Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial dan menimbulkan masalah baru.

c. Dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nila-nilai juga berubah.

d. Sebagian remaja bersikap ambivalen terhap setiap perubahan.

4. Masa Remaj sebagai Usia Bermasalah

Setiap periode mempunyai masalah yang sulit diatasinya baik laki-laki maupun perempuan.

5. Masa Remaja sebagai Masa Mencari Identitas

Pada tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap pentin bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka akan mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi menjadi sama dengan temanya. Dalam segala hal seperti sebelumnya. Salah satu cara untuk mencoba mengangkat diri sendiri sebagai individu, adalah dengan menggunakan symbol stataus dalam bentuk mobil, pakaian, dan pemilikan barang-barang lain yang mudah terlihat.

6. Masa Remaja sebagai Usia yang Menimbulkan Ketakutan

Anggapan stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapih yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusakdan berperilaku merusak, menyebabakan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatikterhadap perilaku remaja yang normal.

7. Masa Remaja sebagai Masa yang tidak Realistik

Cita-cita yang tidak Realistik, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga agi keluarga dan teman-temannya, menyebabkan meningginya emosiyang merpakan cirri dari awal masa remaja.

8. Masa Reamaja sebagai Masa Dewasa

Denagan semakin mendekatnya usia kematangan, mak remaja mulai memusatykan dri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewas, yaitu merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat- obatan , dan terlibat dalam perbuatan seks.

Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja

Tugas Perkembangan masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit baik anak laki-laki maupun perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas-tugas tersebut selama awal masa remaja. Penelitian singkat mengenai ttugas-tugas perkembanagan masa remaja yang penting akan mengambarkan seberapa jauh perubahan yang harus dilakukan dan masalah yang timbul dari perubahan itu sendiri. Sekolah dan pendidikan tinggi menekankan mengenai perkembngan dan keterampilan intelektual dan konsep yang penting bagi kecakapan social. Erat hubungannya denagn masalah pengembangan-pengembangan nilai yang selaras dengan dunia nilai orang dewasa yang akan dimasuki, adalah tugas untyuk mengembangkan perilaku social yang bertanggung jawab. Kecendrungan kawin muda menyebabakan persiapaan perkawinan merupakan hal yang paling penting dalam tahun-tahun remaja.

Perubahan Fisik Selama Masa Remaja

a. Variasai dlm Perubahan Fisik

Seperti pada semua usia, setuiap perubahan fisik juga terdapat perbedaan individu. Bagi anak laki-laikimemulai pertumbuhannya lebih lambat dari anak perempuan. Perbedaan individual juga dipengaruhi oleh usia kematangan. Anak yang matangnya terlambat cendrung mempunyai bahu yang lebih lebar dari pada anak yang matang lebih awal. Tungkai kaki anak yang matang lebih awal cendrung pend3ek dan gemuk, tungkai kaki anak yang matangnya terlamabat cenderung lebih ramping.

b. Efek perubahan fisik

Remaja terdorong untuk mengunakan kekuatan yang diperoleh dan selanjutnya merupakan bantuan untyuk mengatasi setiap kecanggunagan yang timbul dikemudian hari.

c. Keprihatinan akan perubahan fisik

Beberapa keprihatinan akan tubuh yang dihadapi remaja merupakan lanjutan dari berbagai keprihatinan diri yang dialami para remaja dan yang pada awal-awal tahun remaja dan yang pada awaltahun-tahaun remaja didasarkan pada kondisi-kondisi yang berlaku, misalnya: keprihatinana akan kenormalan, bentuk tubuh, haid pada wanita, jerawat, dan gemuk.

d. Pola Emosi pada Masa Remaja

Remaja tidak lagi mengungkapkan kemarahannya dengan gerakan melainkan dengan menggerutu, tidak berbicara atau dengan sura keras mengeritik orang yang menyebabkan marah.

e..Kematangan Emosi

Akhir Masa Remaja tidak meledakkan Emosinya dihadapan orang lain melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat umtuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih dapat diterima.

Perubahan Sosial

Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial, hala ini disebabakan karena:

1. Kuatnya pengaruh teman sebaya.

2. Perubahan dalam perilaku sosial.

3. Pengelompokkan sosial baru.

4. Nilai baru dalam memilih teman.

5. Nilai baru dalam penerimaan sosial.

6. Nilai baru dalam Memilih teman.

7. Nilai baru dalam memilih pemimpin.

Beberapa Minat Remaja

Semua remaja muda sedikit banyak memiliki minat-minat khusus tertentu yang terdiri dari beberapa kategori, yaitu diantaranya adalah:

a. Minat Rekreasi Remaja

1. Minat Permainan dan Olahraga

2. Minat Bersantai

3. Minat Berpergjan

4. Minat Hobi

5. Minat Dansa

6. Minat Membaca

7. Mianat Menonton

8. Minat pada Radio dan Kaset

9. Minat pada Televisi

10.Minat untuk Melamun

b. Minat-minat Sosial yang Umum Pada Remaja

1.Pesta

2. Minuman-minuman Keras

3. Obat-obatan Terlarang

4. Percakapan

5. Menolong Orang lain

6. Peristiwa Dunia

7. Kritik dan Pembaruan

Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap Remaja Terhadap Pendidikan

a. Sikap teman sebaya: berorientasi sekolah atau kerja.

b. Sikap orang tua : Menganggap pendidikan sebagai batu loncatan kearah mobilitas sosial atau hanyasebagai suatau kewajiban karena diharuskan oleh hokum.

c. Nilai-nilai yang menunjukkan keberhasilan atau kegagalan akademis.

d. Relevansiatau nilai praktis dari berbagai mata pelajaran .

e. Sikap terhadap guru-guru, pegawai tata usaha dan kebijaksanaan akademis serta disiplin.

f. Keberhasilan dalam berbagai kegiatan ekstra kulikuler

g. Derajat dukungan sosial diantara teman-teman sekelas.

Sebab-sebab Umum Pertentangan Keluarga Selama Masa Remaja

a. Standar Perilaku

b Metoddee Disiplin

c. Hubunga dengan saudara kandung

d. Merasa menjadi korban

e. Sikap yang sangat kritis

f. Besarnya keluarg

g. Perilaku yang kurang matang

h. Memberontak terhadap sanak saudara

i. Masalah palang pintu

Konsep-konsep yang mempengaruhi konsep diri remaja

1. Usia kematangan

2. Penampilan diri

3. Kepatutan seks

4. Nama dan juliukan

5. Hubungan keluarga

6. Teman-teman sebaya

7. Kreativitas

8. Cita-cita

Hambatan-hambatan umum untuk melakasanakan peralihan kematangan

1. Dasar yang buruk

2. Terlambat matang

3. Terlampau lama diperlakukan seperti anak-anak

4. Perubahan Peran

5. Ketergantungan yang terlampau lama

Perkembangan Jiwa Beragama pada Remaja

Ide-ide agama, dasar-dasar dan pokok-pokok agama pada umumnya diterimaseseorang pada masa kecil . Apa yang diterima sejak kecil akan berkembang dan tumbuh subur apabila remaja dalam menerima kepercayaan tersebut tidak mendapat kritikan Motivasi Beragama dapat diartikan sebagai usaha yang adadalam diri manusia untuk berbuat sesuatu tindak keagamaan dengan tujuan tertentu. Berbagai cara yang dilakukan remaja untuk mengekspresikan juwa keberagamaaannya,yaitu dengan cara percaya ikut-ikutan, Percaya dengan kesadaran Percaya tapi agak ragu-ragu, tidak percaya atau cenderung ateis3.2

Daftar Pustaka

Hurlock Elizabeth. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.1980

Sururin, M.Ag. Ilmu JiwaAgama. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.2004

Atkinson,Rita L. Pengantar Psikologi. Jakarta:Erlangga.1983



1 Rita L Atkinson , Pengantar Psiologi, Jakarta: Erlangga, 1983, hal: 135

2 Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga, 1980 hal: 206

3 Sururin, M.Ag, Ilmu Jiw dan Agam, Jakarta: PT.Raja Grafindo Peersada,2004 hal:66